MERASA DITIPU, NASABAH BRI ANCAM RUSH

kantor Bank BRI Mataram
MATARAM-Ratusan nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Mataram-NTB mengancam menarik tabungannya secara besar-besaran, setelah merasa ditipu pihak bank. Nasabah kecewa karena pihak BRI dinilai memberlakukan kebijakan bunga bank secara sepihak dan mendadak, tanpa sosialisasi terlebih dahulu.

Itulah yang diungkapkan salah satu nasabah BRI, Yanto, dari puluhan nasabah bank ini di Ampenan, Jum'at (25/10). Yanto mengaku merasa ditipu karena pihak bank memberlakukan kebijakan yang dinilai sepihak dan mendadak.

Kami, ungkap Yanto, berencana melunasi pinjaman  yang tersisa sekitar Rp 25 juta lebih bulan September lalu dan meminta print out-nya. Pelunasan, kemudian dilakukan pertengahan bulan Oktober. Kami, sangat terkejut. Pada saat pelunasan akan dilakukan, jumlah yang harus dilunasi menjadi Rp 36 juta lebih. "Ini kan penipuan namanya. Kalau memang masih ada bunga, apa iya bunga pinjaman sebesar Rp 25 juta ini membengkak hingga sepuluh juta lebih," ujar Yanto heran.

Meski pelunasan pinjaman terpaksa dilakukan pegawai kantor pemerintah ini mengaku sangat kecewa dan merasa telah ditipu pihak bank. Yang membuat nasabah ini semakin kecewa, karena pihak bank tidak melakukan sosialisasi terlebih dahulu, jika ada ketentuan lain yang diberlakukan pihak bank.  Puluhan nasabah, mengancam menarik simpanannya dari bank pemerintah ini bersama rekan-rekannya (rush) yang lain. "Kami sangat kecewa, lebih baik kami tidak lagi menabung atau pinjam uang lagi di sana," imbuhnya.

Secara terpisah, Pimpinan Cabang BRI Mataram, Amir Syarifudin, yang dikonfirmasi sejumlah awak media membenarkan telah memberlakukan kebijakan direksi BRI di Jakarta. Menurut Syarifudin, nilai pelunasan sebesar Rp 36 juta lebih itu, didapat setelah dilakukan rekalkulasi sisa pinjaman dan ketentuan bunga bank dari tenggat waktu kontrak pinjaman. "Kami mengenakan bunga pinjaman hingga waktu pelunasan. Tapi kami melakukan rekalkulasi ulang sesuai ketentuan berlaku," ujar Syarifudin.

Kebijakan ini, menurut Syarifudin, juga berlaku di bank-bank lain. Pihak BRI baru memberlakukan kebijakan ini awal Oktober lalu, karena selama ini kebijakan belum diterapkan. Rekalkulasi ini diberlakukan dengan menerapkan sekitar 20 persen bunga pinjaman. Diakui Syarifudin, jika kebijakan ini tidak diberlakukan pihak bank akan merugi.

"Keuntungan bank diperoleh justru setelah berjalan 50 persen setoran pinjaman dari ketentuan lama kontrak pinjaman.  Kalau pelunasan dilakukan sebelum masa kontrak berakhir, kami rugi dong! Karena itu kami hitung ulang dengan ketentuan bunga bank sesuai kebijakan," terang Syarifudin.

Lebih lanjut, Syarifudin, membantah telah melakukan penipuan dan pembohongan kepada nasabah. Meski demikian, pimpinan cabang BRI Mataram ini juga mengaku lemah kurang melakukan sosialisasi ke nasabahnya. Syarifudin, ancaman masyarakat melakukan rash tidak terjadi, karena dapat merusak sendi perekonomian masyarakat NTB. (Lal)
Komentari